Film ‘Panai’, Karena Mahar Tak Harus Mahal

Poster-film-Uang-Panai-1

Film, adalah bukan lagi hanya paduan audio dan visual yang dibuat untuk konsumsi penonton. Film juga bukan hanya kumpulan gerak dan suara yang direkam kedalam sebuah wadah fisik. Film juga bukan lagi hanya sebatas ide yang dikembangkan kedalam sebuah pencapaian artistik audio visual disertai efek canggih dan bumbu-bumbu penyedap lainnya hingga ramuan itu ‘berasa’ untuk ditonton.

Film, dalam ideologi dan kepercayaan budaya urban masa kini adalah ide-ide yang tertuang dan terungkap baik manis maupun pahit. Film tidak lagi hanya bersumber dari ide atau saran seorang atau sekumpulan, tapi film adalah hak dan mutlak adalah kemasan berisi pesan dan ide untuk mempengaruhi mata penonton dan menggugah hati dan perasaan penonton. Film sudah sekompleks itu, walau sebenarnya simple simple saja.

Industri film yang berkembang sangat pesat baik di luar maupun di dalam negeri telah menjadi sebuah mata air menggiurkan. Budaya dan perkambangn sosial kemasyarakatan telah banyak dipengaruhi oleh naik turunnya industri perfilm-an mengingat besarnya nilai kapital yang turut berputar di dalamnya.

Pun demikian dengan industri film negeri. Indonesia semakin kesini juga semakin banyak melahirkan film-film berkualitas (dan jangan tanyakan yang tidak berkualitas, pasti juga banyak). Dalam hitungan satuan, jumlah film yang dihasilkan oleh sineas tanah air berkembang seiring sejalan dengan makin berkualiatsnya para pelakon dan deretan pendukung filmnya sendiri.

Makassar, sebagai kota terbesar ke-4 di Indonesia juga menyeruak untuk turut menghadirkan film film layak tonton. Banyak juga sineas film atau pakar film ataupun pemerhati film yang berkualitas yang lahir dan besar dari budaya industri kota ini yang makin sehat.

Beberapa waktu terakhir, saya sebagai pecandu berat film berdebar menantikan film yang benar-benar diciptakan dan dikreasikan oleh para sineas dan pelakon dari kampung sendiri. Beberapa film kemudian hadir namun ‘belum’ sedikitpun mampu memalingkan pandangan saya kepadanya.

PANAI, adalah harapan terbaru saya. Film yang sedianya akan mulai diputar di bioskop 25 Agustus ini konon kabarnya dibuat murni oleh beberapa sahabat baik saya sendiri. Berbagai pergerakan dilakukan oleh orang-orang yang terlibat didalamnya, secara individual dan berkelompok. Promo filmnya telah menghiasi banyak linimasa sejak beberapa bulan terakhir, spartan!!

Menggelitik untuk melihat trailernya yang telah dirilis beberapa waktu kemarin, namun sudah begitu, banyak harapan dari saya secara pribadi untuk film PANAI itu, setidaknya menjadi sebuah kebanggaan bahwa PANAI bukan hanya milik beberapa orang, namun saya mendambakan PANAI juga akan sah saya banggakan.

Dari beberapa kesempatan bertemu, saya kemudian mengirimkan beberapa poin pertanyaan kepada seorang sahabat saya, Andi Mattuju, yang berperan besar dalam industri fotography dan sinematography Makassar dimana ia terlibat sangat dalam dalam film ini, berikut petikannya;

Saya berharap 5 buah item pertanyaan yang saya buat juga mampu mewakili banyak tanda tanya yang sebenarnya ingin disampaikan oleh beberapa orang terkait dengan penamaan, ide, visi dan misi serta kemasan film PANAI ini, hingga saatnya tiba, masing-masing dari kita akan bangga menyatakan bahwa PANAI ini adalah film kita bersama, dan lebih dari itu, Mahar adalah bagian dari budaya lokal yang tidak harus Mahal!

 

iko

Siasat Partikelir, Kolektif 13 Kota, Bergerak Bersama, Rapatkan Barisan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *