#Y2KOUSTIC, Kompilasi (Untuk) Bernostalgia

artwork-y2koustic-300x300

Dekade 90-an untuk sebagian besar orang adalah dekade terbaik musik, sementara era 2000-an menempel tepat dibawahnya, lagi-lagi mungkin menurut sebagian orang lainnya.

Untuk pasar Indonesia, era 2000-an memang adalah masa keemasan industri musik, dan era ternyaman bagi para pelakunya, nyaman dan aman tepatnya. Era ini mengalami puncak kala ring back tone jadi tambang emas pencipta lagu dan penyanyinya. Jutaan, mungkin ratusan juta kali download RBT menempatkan banyak pelaku ke kursi kebahagiaan finansial.

Lagu-lagu Indonesia 2000-an juga jadi jualan maha penting buat label recording, untuk mengeksploitasinya kedalam berbagai bentuk. Susah menghitung bagaimana lagu-lagu terbaik dari era itu menembus batas nalar manusia Indonesia, begitu melenakan dan meninabobokkan.

Sony Music Indonesia, sejak lama menjadi pemegang peranan terbesar bagi alur keluar masuk barang-barang kesenian bernama lagu ini. Sony Music menjadi leader dan besar serta membesarkan materi-materi terbaik karya song writer kelas satu masa itu, dan menyimpannya untuk kemudian ditawarkan kembali dalam bungkusan bernama ‘nostalgia’.

Isyana Sarasvati, Fatin Shidqia, The Overtunes, GAC, Rendy Pandugo, Tasya Kamila, Soulvibe, Karina Salim, Nadya Fatira, dan Rafael Tan, kemudian didapuk untuk menyanyikan kembali hits-hits lawas milik Padi, Audy, Ratu sampai The Groove.

Pertanyaan yang muncul kemudian buat saya adalah: sebagus apa talenta-talenta muda ini meniupkan kembali ruh dari lagu-lagu bagus tersebut?

Bisa banyak versi dan jawaban yang saya hasilkan, toh saya tidak punya tendensi apa-apa disini, selain dari hanya sebagai penikmat musik-musik ini. Mirip tidak mirip, atau cocok atau tidak cocok juga tidaklah penting, melainkan hanya kelitikan kecil untuk saya dalam menjawab pertanyaan: sebisa apa penyanyi-penyanyi muda tersebut memalingkan memori kita akan pemilik dan pelantun lagu aslinya?

Bagi saya, jika sebuah lagu dirilis dan dinyanyikan kembali, oleh siapapun, dan jika saya dengarkan (dan) yang terbayang pertama kalinya adalah sosok atau ‘kebesaran’ penyanyi aslinya, materi itu artinya gagal menaklukkan telinga saya. Materi itu hanya akan masuk kategori ‘bisa’ didengarkan, namun belum tentu bisa direkomendasikan ke teman, sejawat, atau orang lain.

Kalian silahkan untuk tidak setuju atau silahkan untuk sekedar menikmati materi lagunya, tapi menurut saya, lagu yang bagus adalah lagu yang mampu membuat saya mengulanginya berkali-kali.

Fatin, menyanyikan hits milik duo Ratu, ‘Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu’, Rendy Pandugo mencoba mengimbangi sensasi lagu ‘Sebuah Kisah Klasik’ atau Rafael Tan yang mencoba menyampaikan kembali pesan lagu ‘Tiada Kata Berpisah’, adalah contoh bahwa penyanyi aslinya masih mengiang terlalu kuat dalam imagi saya. Tidak menjadi bagus sekali, tidak juga buruk, bukan tidak berhasil, bukan juga jelek, mungkin bisa dibilang abu-abu. Tidak untuk saya ulangi berkali-kali.

3 ternyaman di album ini bagi saya adalah Nadya Fatira, GAC, dan Tasya Kamila, dimana Nadya yang sebenarnya (menurut saya) sedikit canggung pada awalnya, tapi toh cukup nyaman menyanyikan kembali hits lawas group band Cokelat berjudul ‘Jauh’.  Mungkin secara tidak sadar juga, Nadya Fatira sebenarnya adalah penyanyi yang baik, yang seharusnya mendapat jatah merilis lagu lebih banyak lagi. Bayangan Kikan yang secara melankolis dulunya menyusupkan energi luar biasa untuk lagu ballad ini secara ajaib mampu diimbangi oleh Nadya Fatira, dan jadilah lagu ini nyaman untuk diulang berkali-kali.

Untuk GAC, saya seperti kehabisan kata-kata untuk mereka. Energi 3 anak ini seakan tak habis-habisnya dieksploitasi. hal itu yang menjadikan lagu ‘Dahulu’ menjadi jauh lebih renyah untuk disimak. Porsi yang masing-masing dari mereka mereka sajikan terasa pas, ditambah aransemen yang ringan, klop lah jadinya.

Sementara Tasya Kamila? ah, di album ini ia menyanyikan kembali lagu lamanya sendiri, ‘Jangan Takut Gelap’, terdengar pd? ya iyalah. Awalnya mungkin susah-susah gampang menawarkan kembali lagu lama dari penyanyi yang sama, cuma, disini isiannya sedikit lebih beda, segar, dan menyenangkan 😉

Saya rasa, sensasi yang ditawarkan album ini secara keseluruhan bermuara pada 2 materi diatas, sementara 8 lagu yang lainnya sebenarnya cukup untuk menjadikan album ini sebagai album nostalgia rasa milenia.

 

 

 

iko

Siasat Partikelir, Kolektif 13 Kota, Bergerak Bersama, Rapatkan Barisan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *