Tonton Menonton

Beberapa waktu lalu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengadakan survey yang menghasilkan pendapat bahwa Sinetron dan Infotainment adalah termasuk tontonan yang paling buruk kualitasnya di tv. Hal yang sebenarnya tidak harus dtelaah sebagai sebuah hal yang mencengangkan tetapi karena 2 jenis tontonan hiburan tersebut adalah ‘jualan’ paling laku dijual, maka buat sebagian orang, hal tersebut menjadi penting dan bisa jadi sangat penting.

Saya dan beberapa orang yang lain adalah pihak lain yang melihat hal tersebut adalah sebuah hantaman keras bagi industry hiburan. Bagaimana tidak, industry hiburan (tontonan) negeri kita bertahun-tahun menjadikan sinetron dan infotainment sebagai ujung tombak untuk mengais pemasukan. Bisa kita rasakan sebanyak apa selingan iklan dalam sebuah tayangan sinetron dan infotainment yang ‘terpaksa’ dilahap juga oleh mata saking beresikonya kehilangan beberapa adegan dari tayangan kesayangan tersebut.

Stasiun tv yang tidak menayangkan hiburan jenis itu menjadi stasiun tv nomer sekian bagi sebagian besar masyarakat kita. Bukti sahih bagaimana sinetron dan infotainment menjadi bahan pokok utama yang harus dikonsumsi secara kontinyu bagi orang banyak di negeri ini.

Sinetron dan infotainment bisa mengacak-acak emosi sebagian masyarakat kita secara membabi buta, hubungan kekasih yang disajikan berlebihan dengan bumbu-bumbu penyedap bisa tiba-tiba dibelokkan menjadi sebuah bencana yang juga disajikan untuk membentuk sebuah argument atau image bagi pihak tertentu. Salah bisa dibenarkan, yang benar juga bisa dibelokkan menjadi sebuah kesalahan.

Sinetron (Sinema Elektronik) banyak yang dibuat dengan mengangkat sosok baik dan buruk. Namun dalam perjalannya, si baik bisa dibuat buruk dan sebaliknya. Tokoh-tokoh yang dianggap penting dapat dimunculkan begitu saja tergantung seberapa besar sosok yang ditampilkan akan berimbas pada kenaikan rating. Sosok yang sudah kurang jualan bisa dihilangkan begitu saja tanpa kompromi. Jalan cerita juga dibuat sedemikian panjang dan melelahkan jika menjanjikan dari sisi pemasukan. Sinetron dapat memunculkan pahwalan baru di mata masyarakat namun juga bisa membuat seseorang dibenci layaknya hantu.

Logis dan tidak logis menjadi hal biasa yang bisa dipermainkan hingga kadang tanpa disadari memberikan dampak yang juga kurang baik perkembangan anak dan remaja (mungkin bagian terbesar dari penoton jenis hiburan ini), sementara infotainment juga sering meniupkan berita yang tingkat keabsahannya rendah hingga menimbulkan cerita miring di masyarakat. Dan lagi, anak, remaja sampai orang tua juga kadang menjadi memihak setelah menontonnya. Memihak hal yang benar nilainya ibadah, nah jika yang diyakini benar ternyata mengandung kebohongan dan dosa, itu yang jadi masalah.

Uang besar kadang membutakan, itu adalah sah adanya dengan kondisi masyarakat kita diatas yang dijadikan sasaran tembak oleh program tontonan yang tidak bertanggung jawab. Rating adalah segalanya tanpa memikirkan dampak apa yang bisa terjadi bagi masa depan anak-anak dan remaja bangsa ini.

Kemana para idola penonton dan pihak-pihak yang membuatnya menjadi tontonan yang absurd kala sebagia dari remaja Indonesia menjadi sosok antagonis, kurang bergaul atau terlalu bergaul, menjadi dewasa lebih cepat dari waktu sewajarnya, atau menjadi pongah karena mendapati contoh yang tidak sehat dari tontonan yang dilahapnya setiap hari?

Sampai dimana tanggung jawab penyebar berita yang ditayangkan tiap hari, menimbulkan gossip yang tidak berujung pangkal atau lebih parahnya lagi berita yang disajikan itu mengandung fakta yang menyesatkan?

Siapa yang bertanggung jawab dalam menghadapi sisi dilemma ini?

Kadang, kita kurang paham bahwa keputusan untuk menjadi apapun itu adalah bentuk dari tanggung jawab kita sendiri. Membiasakan diri mengkonsumsi tontonan bermutu dan berkualitas yang dapat meningkatkan citra dan pola piker positif adalah dimulai dari anak-anak kita, rekan kita, kita sendiri dan keluarga kita dirumah.

Betapa banyak hal yang terbuang hanya untuk menyaksikan ratusan bahkan ribuan episode tontonan yang hanya menimbulkan cara berpikir yang rendah dan tidak berkualitas. Energi yang terbuang percuma itu bisa jadi tak bisa dimunculkan kembali esok harinya.

Sadar, bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah keseharian kita. Berbuat kebaikan jauh lebih bermanfaat dari pada hanya sekedar menyaksikannya dalam bungkusan tontonan pengejar rating yang tidak bertanggung jawab.

iko

Siasat Partikelir, Kolektif 13 Kota, Bergerak Bersama, Rapatkan Barisan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *