Saya Suka……

Saya selalu suka disebut sebagai anak Makassar asli, seperti sukanya saya menjawab ‘orang Makassar’ saat ditanya orang mana oleh orang lain.

Suka, mungkin dangkal artinya, bagaimana dengan bangga??

Ya, saya bangga sebagai orang Makassar asli dan selalu jauh lebih bangga jika ditanya oleh teman : kamu anak mana??

MAKASSAR!!!!

Makassar itu kotanya para pejuang, kotanya para pelaut, kota yang menyimpan banyak harapan, kota yang memiliki panorama laut tiada tandingan, kota dengan berbagai macam mitos, cerita, kenangan dan semacamnya.

Makassr itu juga adalah kota yang menjanjikan tawa dan canda. Makassar adalah kota dengan masyarakat yang majemuk namun tetap dinamis. Makassar juga adalah kota kuliner yang luar biasa.

Tanyakan kepada siapapun juga yang pernah mencicipi kuliner Makassar, apa kesan yang dibawanya kembali ke kota masing-masing? Apa yang akan dirindukan mereka saat pulang ke rumah? Atau apa yang akan dicari mereka pertama kali nanti saat kembali menginjakkan kaki di Makassar?

Sebagian pasti akan menjawab: makanannya!!

Kalian bisa suka bisa tidak, bisa tidak pas lidahnya dengan berbagai hidangan kuah kolsterol tinggi tapi mungkin cocok dengan sajian kue tradisionalnya. Begitulah kuliner Makassar, suka tidak suka, saya jamin pasti membuat rasa penasaran dan rindu untuk kembali mencicipinya.

Saya suka songkolo’, gampangnya sebut saja dengan nasi ketan dengan lapisan serundeng (parut kelapa goreng diatasnya) yang jika dipegang akan menimbulkan rasa lengket ditangan, namun dengan penyajian hitam, merah atau putih (tergantung ketannya) kemudian dicocoki dengan sambel tumis, maka nyam nyam, rasakan sensasinya.

Saya juga suka coto makassar, yang dalam sebuah buku terbitan rekan, disinyalir lebih dari 4.000 warung coto melimpah disepanjang Sulawesi Selatan. Sebuah sajian ‘isi dalam’ sapi yang dimasak terlebih dahulu, dibumbui rempah, kemudian dilumuri kacang tanah tumbuk (sebagian juga tidak), dimasak dan disajikan panas-panas dengan imbuhan nasi putih atau burasa’, sungguh rasa yang luar biasa!!!

Saya, apalagi, suka juga dengan pallubasa, yang berlainan dengan coto, adalah murni daging (bukan jeroan) dengan lumuran kuah berbumbu rempah alami dan juga disajikan dengan nasi serta kerupuk tipis. Belum lagi dengan hidangan sop saudara, pallumara (berbahan utama ikan), serta sop konro tulang iga sapi, semuanya khas Makassar.

Saya, juga pasti suka dengan jejeran makanan berat yang bisa kalian tambahkan sendiri, termasuk mie kering Anto, Hengki, Awa, dan sebagainya.

Sementara dari jajaran kue dan penganan, saya suka kue bolu peca, pisang epe’, barongko, pisang ijo, jalangkote (sebagian orang menyebutnya pastel), apalagi gogos yang disajikan hangat, tenteng yang banyak dijual dikawasan Malino, atau baruasa, sikaporo’ maupun cuccuru’ bayao. Belum lagi dengan deretan nama penganan ‘semi tradisional’ lainnya yang sah menggambarkan betapa kayanya Makassar akan makanan lezat dan menarik.

Lagi, saya suka baroncong dan sara’ba, saya juga suka kue putu cangkir.

Saya, secara tidak terpaksa juga suka kue ‘modern’ semacam black forest atau kue pelangi atau red velvet, deretan cake yang tidak mengambil nama kota tertentu untuk melariskannya. Mungkin di beberapa tempat iya, diimbuhi dengan nama kota biar lebih khas, dan saya tidak peduli dengan hal itu 😉

Namun sekarang…..di Makassar…

Beberapa nama atau brand atau merk dipakai oleh beberapa orang tertentu dan menambahkan kata Makassar dalam kegiatan promosinya. Orang-orang tertentu itu bisa jadi adalah public figure, orang dengan banyak fans, dengan followers ribuan, puluhan ribu bahkan jutaan di sosmednya. Mereka dengan sadar menggunakan kata kota kita untuk melariskan atau setidaknya coba menggandeng calon pembeli untuk berkunjung kemudian dengan sukarela membeli produknya, dengan mungkin saja, rasa adalah nomer sekian.

Salah tidaknya hal tersebut diatas sebenarnya bukan urusan saya, saya hanya menyayangkan beberapa hal terkait dengan hal itu, karena toh apa yang telah mereka sajikan sekarang sebenarnya bukan penganan khas Makassar. Brand itu telah buka ari ini 2, besok mungkin 3, lusa akan menjadi 8 dan seterusnya.

Kemudian, akan kemana sajian khas kita ditempatkan? pekerjaan rumah yang besar sudah datang, jangan terlalu kenyang, nanti susah digoyang 😉

iko

Siasat Partikelir, Kolektif 13 Kota, Bergerak Bersama, Rapatkan Barisan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *