Padi Jangan Cemburu

padi

17 Januari bukan tanggal ‘keramat’ bagi saya, namun dari bertahun-tahun melalui 17 Januari, hari ini ditahun 2017, saya diingatkan facebook untuk membaca kembali ‘celoteh’ saya tentang sebuah lagu dari sebuah band paling bermutu yang pernah ada di Indonesia sampai sekarang.

17 Januari 2010 silam, celoteh saya dipenuhi kegembiraan karena ‘Terbakar Cemburu’ akhirnya diretas sebagai penyambung asa para sobat Padi agar band kegemarannya tidak dan tak bubar. Akhirnya, beberapa setelah itu, Padi merunduk tajam kebawah, hampir kolaps, namun tetap membara hingga sekarang. Padi akan segera bangkit kembali, mari berharap bersama.

Mungkin menarik untuk membaca kembali celoteh saya yang sebenarnya juga tidak penting hehe, tapi, coba dulu yaa

Sungguh, terus terang, membuka lembaran tahun baru dengan sesuatu yang baik dan bermutu adalah sangat penuh berkah, tahun ini 2010 ditandai dengan turun gunungnya Padi, band yang menurut saya adalah band ‘terbaik’ di indonesia.

Untuk sisi skill dan musikalitas, adakah yang meragu? ‘terbakar cemburu’ adalah bukti, sebuah track dahsyat, sangat tipikal padi: melodic, anthemic dan apresiasinya sangat menggugah hati.

‘terbakar cemburu’ adalah ‘comeback’ dahsyat dari band yang belum pernah berganti formasi ini.
‘terbakar cemburu’ bukan single padi pertama yang bernada serupa (yang paling mirip dari segi tematic adalah ‘sesuatu yang indah’ dari album ‘sesuatu yang tertunda’), namun ‘terbakar cemburu’ lebih miris, lebih tragis, namun tak setragis track ‘rapuh’ dari album ‘save my soul’.

Kembali jika diurut dari masing-masing single pertama dari album-album terdahulu Padi :

1.’sudahlah!’ dari album ‘lain dunia’
2.’sesuatu yang indah’ dari album ‘sesuatu yang tertunda’
3.’hitam’ dari album ‘save my soul’
4.’menanti sebuah jawaban’ dari album ‘padi’
5.’sang penghibur’ dari album ‘tak hanya diam’
Bisa ditebak bahwa ‘terbakar cemburu’ sedikit berusaha menjamah grey area, sisi komersil, yang beberapa saat diemohi padi, lagu ini punya sisi gelap karena liriknya sangat ‘biasa’, tapi jangan ditanyakan sisi lainnya, karena padi mungkin adalah pancang beton terakhir dari musik berkualitas yang pernah ada di indonesia. Padi mungkin setengah berharap bahwa apapun bentuk albumnya nanti akan sesukses album ‘sesuatu yang tertunda’ yang jadi album terlaris mereka, terbukti dengan adanya pengulangan ide, namun, sah-sah sajalah.

Kekuatan utama lagu ini adalah harmonisasinya, yang bukan barang baru bagi band sekelas ini. Harmoni terbentuk jika masing-masing yang bermain didalamnya punya kapabilitas yang mumpuni dan ego yang bisa ditempatkan sesuai porsinya, sisanya adalah sebuah bentuk perjudian, karena padi bukan band kemarin sore yang masih berharap mengais rejeki dari penjualan ring back tone (walaupun harapan kesitu tentu ada), lagu ini bisa diterima dengan sumringah atau wajah berkerut, tergantung dari sisi mana pengharapan kita, buat saya, mereka merilis single saja sudah lebih dari cukup.

Liriknya sungguh sangat menggelitik, tapi bisa dibilang biasa saja, perhatikan :
‘……ibaratnya jantung hati, tersayat pedang tajam, betapa sakitnya..kurasakan itu..’
Waw, sesederhana itu, iya memang, karena sakit bisa dirasakan siapa saja, dimana saja, penyebabnya bisa apa saja : perselingkuhan, pengkhianatan, putus cinta, yang bukan dominasi perempuan saja, karena seperti kata fadli: tema lagu-lagu baru kami akan mewakili sisi laki-laki, yang juga bisa merasakan apa saja.

Nah mari berharap, bentuk perjudian tersebut tepat sasaran dan padi terus menelurkan karya hebatnya, saya adalah fans terbesar mereka, yang berharap padi tak cemburu melihat realita, karena padi tetap padi, tonggak terkokoh musik indonesia.

iko

Siasat Partikelir, Kolektif 13 Kota, Bergerak Bersama, Rapatkan Barisan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *