Kadang 2 is better than 1

bioskop

Ada 2 film yang berjudul nyaris sama, hanya berbeda beberapa hurus saja, tdk jelas siapa yang mendahului siapa, yang memulai kapan dan dimana, karena itu bisa dan sah direkayasa.

Ada 2 film yang mengangkat dasar cerita yang hampir sama, adat dan cerita turun-temurun, bermuatan kisah kasih yang entah kapan dimulainya, namun seharusnya dinilai sama sebagai batasan moral dan bentuk ‘hukuman sosial’ yang dibebankan masyarakat bagi pelanggarnya.

Pada saat konten-kontennya masing-masing diangkat sebagai sebuah bentuk pemberitaan dan bernilai promosi, keduanya kemudian diperadukan oleh sebagian orang yang sebenarnya pun belum tentu mengerti dasar dan maksud serta pencapaian moral yang diharapkan, karena saya sadar bahwa sebuah persembahan berbentuk kumpulan tata gerak dan suara seharusnya menyajikan pesan dan kesan yang baik kepasa masyarakat, karena beban moril banyak dititipkan disitu.

Beberapa persona atau orang yang terlibat di dua bentuk karya itu sebenarnya adalah sesama penggiat dan pekerja seni yang saling kenal, bahkan kadang tidur sekasur dan makan sepiring.

Namun, kadang benturan bisa berasal dari sisi mana saja, dan maaf sekali lagi, pihak-pihak tersebut malah kadang bukan berasal dari lingkar terdalam dari dua kumpulan tersebut.

Nah, dari beberapa konten yang dijadikan sumber gesekan, saya sangat tertarik dengan pemunculan istilah artis atau pelakon lokal dan nasional, apa itu sebenarnya?

Seni peran adalah bentuk warisan indah yang telah dipertontonkan jauh sebelum dimulainya titik peradaban, jauh sebelum ada 2 bakal rilisan yang dibenturkan banyak orang ini.

Dasar dari seni, dimanapun dan kapanpun adalah sama, bahwa hal-hal yang indah adalah pencapaian yang utama. Berarti, para pelaku dan pelakon dasarnya adalah sama, sama sama pekerja seni yang berusaha mempertontonkan keindahan.

Bahwa ada satu atau beberapa pelakon dan pelaku yang tidak berasal dari daerah dimulainya permufakatan atas keindahan itu sebenarnya adalah hal dasar yang tidak layak diperdebatkan, karena seperti yang saya sebut diatas, siapapun dan dari manapun persona itu, tujuannya sama satu dengan yang lain.

‌Mari dengan kepala dingin menelaah sebuah hal bahwa tidak penting siapa dan darimana, karena seni tidak mempermasalahkan warna dan bahasa, seni memperkarakan kreatifitas, seni menuntut kejujuran dan itikad baik untuk mengangkatnya lebih tinggi.

‌Bahwa siapapun dan dari manapun pelakon dan pelakunya, reputasi tak bisa mengkhianati proses, timbal balik hanya berbentuk apresiasi sementara, karena apresiasi terkuat adalah bentuk penghargaan dari penikmat yang menghargai setiap jengkal dari proses itu.

‌Bukan hal penting untuk melihat siapa dan darimana dari kaca mata sepihak saja, namun sejenak seharusnya kita buka dan singkirkan penghalang itu, karena karya seni seharusnya dinikmati perbedaannya, seperti kita semua berbeda namun berdiri di atas bumi yang sama

Setelah itu, masih perlukah mencari perbedaan antara lokal dan nasional, sementara dasar dan tujuannya adalah sama? Padahal yang memisahkannya mungkin hanya sekali bentuk perputaran dua jarum jam saja, dari angka 1 ke angka 12?

Sudah tak penting lagi itu semua, saya penikmat, kalian juga, semua sama dimata seni.

iko

Siasat Partikelir, Kolektif 13 Kota, Bergerak Bersama, Rapatkan Barisan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *