Kamu Melayu

Melayu adalah sebuah kelompok etnis dari orang-orang Austronesia terutama yang menghuni Semenanjung Malaya, Sumatra bagian timur, bagian selatan Thailand, pantai selatan Burma, pulau Singapura, Borneo pesisir termasuk Brunei, Kalimantan Barat, dan Sarawak dan Sabah pesisir, dan pulau-pulau kecil yang terletak antara lokasi ini – yang secara kolektif dikenal sebagai Alam Melayu. Lokasi ini sekarang merupakan bagian dari negara modern Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Burma dan Thailand.

Meskipun begitu, banyak pula masyarakat Minangkabau, Mandailing, dan Dayak yang berpindah ke wilayah pesisir timur Sumatra dan pantai barat Kalimantan, mengaku sebagai orang Melayu. Selain di Nusantara, suku Melayu juga terdapat di Sri Lanka, Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos Malays), dan Afrika Selatan (Cape Malays).

Pengertian Melayu diatas adalah apa-apa yang tertera dengan gamblang di laman Wikipedia.

Saking lebar dan luasnya pengertian Melayu seperti tertera diatas dan di ribuan bahkan jutaan hasil tulisan, belum lagi dengan luwesnya orang tua kita bercerita panjang lebar tentang apa sebenarnya Melayu itu.

Melayu, juga adalah pengertian dengan huruf tebal tentang warna musik yang ditandai dengan adanya beberapa teknik khas dari cara bernyanyi, cengkok ataupun musik yang mengiringinya kumpulan lirik yang biasanya bercerita tentang keseharian yang sederhana, percintaan, hubungan manusia dengan manusia, pencapaian cita-cita, wejangan sampai petuah.

Melayu (musik) adalah yang diketahui orang berbentuk lagu yang mendayu-dayu, terkadang dengan aura romantisme picisan dan keterlaluan (dibuat-buat dan keterlaluan) dengan durasi yang tidak terlalu penting, namun karena biasanya berisi petuah lama yang diperbarui, maka bentuk lagu seperti itu, sadar atau tidak ternyata dekat sekali dengan kehidupan kita, se modern apapun.

Melayu (musik) kemudian digolongkan oleh sebagian orang sebagai warna musik dari dimensi yang berbeda dari musik populer modern, malah mungkin ada yang setengah mati mencibirnya sebagai karya musik yang ‘tidak harus’ diapresiasi. Musik Melayu, bagi sebagian orang adalah bukan bagian dari industri kekinian yang didominasi oleh bebunyian dan harmonisasi western, padahal sebenarnya, musik country, yang diklaim oleh banyak orang sebagai akar musik barat yang mendunia, juga menampilkan alat musik tiup dengan petikan alat musik semisal banjo yang sebenarnya juga ‘dekat’ dengan harmonisasi musik melayu.

Atau kemudian, musik negeri jiran (tetangga) yang dikategorikan ‘tertinggal’ karena masih terkontaminasi secara signifikan oleh bebunyian dan cengkok khas etnis yang mengayomi (Melayu), sementara Indonesia, melestarikan dengan kontinue musik dangdut (konon adalah musik etnis asli bangsa) walaupun di sebagian orang, terkadang tindak pelestariannya malah makin meninggalkan fungsinya sebagai pemersatu bangsa dari segi nilai budaya, contohnya bisa kita cari dan tonton pertunjukan dangdut yang disertai suguhan tari-tarian erotis, atau penampakan tak sesuai oleh beberapa pemuka dangdut yang bercanda dan bercengkerama tak berbatas di stasiun tv tanpa peduli nilai-nilai apa yang sesungguhnya harus ditawarkan untuk penonton di rumah.

Kangen band, Wali, Repvblik sampai Hijau Daun adalah beberapa pelaku musik Indonesia yang dikategorikan ‘melayu’ karena sajian musik dan penampilan fisik (cara berpenampilan) mereka yang untuk sebagian orang dianggap seharusnya ada di gerbong belakang, namun tanpa disadari sebenarnya mereka adalah penggerus terbesar dari kue industri yang ditawarkan. Lagu-lagu mereka beroleh jumlah download jutaan kali, show-show mereka selalu dipadati, potongan lagu mereka banyak disarikan sebagai nada sambung pribadi serta kehidupan sosial personil mereka yang disoroti dan diikuti oleh banyak orang, seakan mereka adalah keluarga sendiri.

Mereka (band-band musik ‘melayu’) terpampang nyata di ribuan halaman muka ponsel remaja, tindak tanduk mereka sudah jadi konsumsi rumahan yang gampang dicerna, gaya hidup mereka pun demikian, kadang jadi standar tidak resmi untuk sebagian orang.

Piyu, bahkan Padi band, Sheila on 7, Armada, Anji dan banyak lagi, menurut saya juga (bisa jadi tanpa sengaja) membuat cetak biru musik mereka dari musik melayu dengan proporsi tertentu pastinya. Mengapa saya berkata demikian? karena mereka orang Melayu, darah dan daging mereka adalah Melayu. Cara bernyanyi mereka dengan sendirinya pasti juga terpengaruh, mendayu dayu? iya kan ya.

So, kamu Melayu, saya Melayu. Masalah selera bisa berbeda, yang jelas kita sama-sama Melayu 😉

iko

Siasat Partikelir, Kolektif 13 Kota, Bergerak Bersama, Rapatkan Barisan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *