Apakah Anda Hanya Boneka Dunia Maya?

bukaan 8

Sebagai penonton film setia yang bisa menghabiskan berjam-jam tiap minggunya memelototi film-film (utamanya genre action dan thriller), kemarin saya berkesempatan untuk menonton pertunjukan special (gala premiere) sebuah film drama komedi besutan Angga Dwimas Sasongko (sebelumnya membesut 7 film antara lain Jelangkung 3, Cahaya Dri Timur: Beta Maluku dan Filosofi Kopi, dengan kondisi ini saya gamblang menyebutnya sebagai sutradara handal hehe) yang ‘sebenarnya’ bercerita tentang hal-hal keseharian kita semua, atau bersetting ‘biasa saja’ saking seringnya kita temui dan alami sehari-hari, dengan setengah sumringah.

Iya, setengah sumringah, karena sebelumnya saya lebih memelototi sosok Chicco Jerikho yang sebuah iklan mie instannya mampu membuat saya memakannya hampir tiap hari, dan sosok si cantik mungil Lala Karmela yang album solo terakhirnya ‘Solina’nya belum habis saya puja. Kedua bintang ini adalah duo pemeran utama film Bukaan 8 yang berkesempatan saya tonton eksklusif kemarin.

Chicco Jerikho, pertama kali saya tonton di film Beta Maluku (dan saya langsung suka actingnya) pada kesempatan ini bukan hanya beradu acting dengan Lala Karmela sebagai pasangan suami istri Alam & Mia, namun juga ‘digesekkan’ keahliannya dengan bintang acting sekaliber Tio Pakusadewo (sebagai abah, ayah Mia) & si ratu hiburan Sarah Sechan (sebagai Umbu, ibu Mia).

Chicco (selanjutnya kita sebut Alam) dalam film ini adalah sosok pemuda menuju orang tua yang banyak kita jumpai sehari-hari. Alam adalah mantan aktifis ‘bayaran’ yang dekat dengan dunia politik terlebih dunia maya. Alam, ditampilkan sebagai pemuda calon bapak yang punya keahlian dalam memanipulasi kata dan menyerukannya dalam bentuk tulisan beberapa paragraf dalam social media twitter. Dengan 40 ribuan followers, Alam adalah pemuda bermulut tajam yang juga hebat dalam dunia pemasaran. Followersnya mampu ia gerakkan hingga bisa menyukai atau membenci sesuatu atau seseorang dengan hanya sebuah postingan. Alam juga adalah sosok pria yang keras dan vokal dan kadang tak mengenal aturan serta tak pandai berbasa-basi (dalam sebuah adegan ia melakukan interupsi terhadap penceramah dalam sebuah mimbar Jumatan). Sebuah hal yang sangat lazim terjadi sebenarnya.

Alam juga adalah tipikal ‘seniman’ serabutan masa kini. Dalam film, ia digambarkan tengah gundah akan menggunakan kumpulan tulisannya sebagai penyambung karir atau menggadaikannya untuk kepentingan suatu pihak politik yang ingin menggunakan ‘pengaruhnya’ itu demi melanggengkan sebuah kepentingan.

Selanjutnya, Lala Karmela (Mia) adalah tipe perempuan muda yang ceria dan pekerja keras. Walaupun sosok dan basic kehidupannya tidak digambarkan segamblang Alam di film ini, namun, kondisi Mia yang tengah hamil tua dan sabar menanti kelahiran anak pertama adalah titik sentral film ini. Mia juga adalah ibu muda yang kadang naik pitam melihat tingkah suaminya yang menggemaskan, namun tetap sabar dan dalam kondisi tak berdaya.

Tio Pakusadewo yang memerankan Abah (ayah Mia) juga berakting total di film ini. Ia memerankan tokoh lelaki paruh baya yang saying anak. Abah, dalam film ini digambarkan telah mengalami stroke (karena shock anaknya hamil) namun punya semangat yang besar demi melihat anaknya (Mia) melalui proses kelahiran dengan selamat.

Sebagai actor senior, acting Tio Pakusadewo dalam film ini sungguh menyenangkan untuk ditonton. Orang tua yang konyol namun penuh canda namun juga keras kepala, dikisahkan ‘bermusuhan’ dengan sang anak mantu, namun dengan kondisi ini, terjadi banyak hal hal memalukan namun sungguh membuat penonton ngakak kegirangan (ingat adegan Abah dan Alam yang sama-sama menghisap gas N20 dan kemudian tertawa, bercerita dengan konyolnya, ampun lucunyaaa)

Kemudian, Sarah Sechan yang berperan sebagai Umbu (ibu Mia) adalah ahli acting jempolan. Umbu tidak hanya berlaku sebagai tempelan di film ini, namun jujur saja, saking bagusnya Sarah Sechan berakting, predikat sebagai peran utama sebenarnya layak saja disandangnya. Jika tidak percaya silahkan nonton sendiri hehe.

Umbu, dengan keluguan dan sedikit sifat sinisnya, mampu membungkus sosok yang dimainkannya ke garis terdepan. Umbu adalah nyawa dalam nyawa komedi film ini. Tiap hal yang diucapkan dan dilakukannya dalam gerakan saya jami mampu membuat penonton tertawa, minimal tersenyum. Disini, Sarah Sechan punya segalanya: reputasi, bakat dan pengalaman. Sosok Umbu sangat fasih diperankannya. Dan bukan hanya sebatas itu, sosok utama penentang hubungan Alam dan Mia (dengan selalu menawarkan uang biaya persalinan misalnya) juga berhasil dimainkannya dengan jenaka.

Film Dengan Banyak Pesan

Sebenarnya inti dari film ini mudah terlacak sejak awal ditonton. Seperti saya sebutkan diatas, cerita-cerita yang mengalir deras dari adegan ke adegan dalam film ini sukses dikemas dan tidak membuat penonton bosan. Angga Dwimas Sasongko, sekali lagi berhasil membuktikan bakat besarnya.

Sejak adegan awal kala Mia & Alam digambarkan menuju rumah sakit untuk memulai proses persalinan, sutradara sudah berhasil dengan lugas menggambarkan kebiasaan sebagian besar dari kita. Nyetir mobil biasa, sambil bersocial media juga adalah hal biasa. Ngumpat, nyampah, persilangan pendapat di masa sekarang bukan hanya monopoli kehiupan rumah tangga atau pertemanan, tetapi hal-hal tersebut sangat mudah kita jumpai di banyak ciutan twitter tiap saatnya.

Kemudian adegan –adegan yang berpindah-pindah, digariskan sangat nyaman. Pesan-pesan moril pun bermunculan ditiap adegannya. Masalah kehidupan social, saling membantu satu sama lain sampai aturan sebab akibat juga muncul secara natural lewat adegan atau acting manusiawi yang dimainkan bukan hanya oleh 2 pasang pemeran utama dan pemeran pembantu diatas, namun juga lewat pemunculan dan acting ibu Alam yang sabar namun terkadang keras, juga cuitan-cuitan Desta yang sejak awal nongol di film ini.

Adegan-adegan Alam yang kalang kabut karena biaya persalinan yang tak mampu dibayarnya dibuat serius, setengah serius dan kadang jenaka. Sungguh pemilihan karakter dan pemeran yang pas lah yang akhirnya membuat film ini dari sisi mengihur akan sangat menghibur dan dari sisi social akan sangat layak untuk diperbandingkan dengan kehidupan nyata sehari-hari.

Bahwa tak ada pengorbanan yang tidak terbayarkan adalah pesan lain yang coba digali dalam film ini. Alam, sebagai calon orang tua yang ‘diragukan’ profesinya oleh orang tua Mia, dengan gigih terus berusaha. Batas waktu 20 jam yang diketahuinya sebagai tenggat waktu terlama sebagai proses persalinan istrinya dilalui dengan banyak kejadian dan cerita, dengan pesan-pesan sebagai bumbu positif, termasuk cara akhir ia mampu memenuhi kewajibannya membayar biaya rumah sakit tersbut, adalah hal yang seharusnya, banyak terjadi di sekeliling saya dan di sekitar kalian semua, termasuk juga filosofi baju terbalik yang kemudian dibetulkannya pada saat dan momentum yang tepat, saya yakin kalian bisa mengambil makna positif dari hal itu.

Satu lagi pesan baik yang coba disampaikan film ini adalah siapapun kalian, dengan dasar atau disiplin ilmu manapun, dengan varian dan media sekecil apapun, termasuk social media tentunya, berhak untuk menciptakan kesempatan-kesempatan dan menjalani peluang yang datang didepan mata. Pengguna social media yang taat dan menjadikannya jalan hidup sehai-hari, jika dipergunakan untuk mencipta dan mendukung hal-hal baik, niscaya, hasil tak akan membohongi proses.

Apakah Anda Hanya Boneka Dunia Maya?

Alam akan menjawabnya untuk kita semua

 

iko

Siasat Partikelir, Kolektif 13 Kota, Bergerak Bersama, Rapatkan Barisan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *