Melismatis, Menemukan Bulan Di Semesta

Melismatis adalah apabila satu suku kata dari teks memperoleh lebih dari satu nada melodi.

Pengajaran diatas dapat dengan mudah kita temui ketika kita mencari arti kata Melismatis. Cukup aneh dan membingungkan? Bisa jadi.

Mari sejenak kita sederhanakan bahwa sesuatu atau dua atau lebih lantunan nada atau melodi adalah kumpulan senyawa kimia yang membius, hebat dan bergelora. Melismatis bisa kita artikan apa saja, major atau minor itu terserah kalian.

Kemudian, mari coba kita bayangkan jika tatanan kata itu diwijudkan menjadi sebuah kumpulan manusia dengan jiwa dan raga yang dipersembahkan untuk sebuah semesta bernama music. Alangkah indah dan nyamannya jika perserikatan it uterus menderu digendang telinga kita, karena, paham atau tidak, bahasa music adalah bahasa yang paling bisa dimengerti tanpa batasan.

finding moon

Finding Moon, Pintu Mulai Terbuka

Sementara itu, disuatu waktu yang tak lagi sempat saya catat, saya berkesempatan untuk mendengarkan beberapa track dari sebuah band bernama Melismatis itu. Sedikit ke Timur adalah track pembuka pintu memori saya terhadap sebuah komposisi  post rock yang rapat dari Juang Manyala, seorang pelaku industry yang entah mengapa juga bisa kemudian saya ‘gauli’ lebih intens di beberapa sisi bersama gerombolan rekannya yang jujur saja, pada saat itu menurut saya sedikit aneh dan introvert.

Saya kadung jatuh hati waktu itu. Sedikit Ke Timur ternyata mampu menyeruak dari himpitan rasa pesimis kala mendapati bahwa kita (Makassar) makin berkekurangan dalam arah seni yang modern. Makassar, kala itu (sekitar tahun 2012) dihuni oleh band-band muda yang lapar mencari kesempatan panggung dimana saja, sementara penyedia panggung makin nyaman menikmati kue nikmat dari beberapa merk yang menyalurkan dengan sadis band-band mainstream berbiaya mahal namun bernilai tak sebesar harapan.

Autisme, adalah kejatuhan saya yang berikutnya. Saya menyenangi track ini sepenuh jiwa. Saya yakin terhadap intuisi saya bahwa band ini lebih berbahaya dibanding keseharian mereka. Harapan dan mimpi untuk mempunyai music berkelas begitu tinggi. Makassar bisa membangun kembali industrinya dengan Melismatis dan beberapa band berbahaya lainnya kokoh berdiri bergandengan.

Mengapa saya seoptimis itu?

Karena sejak awal 2000-an, bagi saya, melismatis adalah salah satu penanda bahwa kita berada di track yang mumpuni. Setelah sekian banyak komunitas musisi yang mengusung jagoan masing-masing di era itu, akhir 2000an seakan jadi sebuah pertaruhan besar apakah kereta music kita akan lanjut atau tidak, setelah banyak nama potensial berguguran karena tak mampu menyiapkan amunisi yang mumpuni untuk ditembakkan.

Sejak rilisan Melismatis diatas merebak. Saya sedikit demi sdikit mulai mengarahkan radar kea rah mereka. Saya tidak peduli bahwa saya tidak mengenal mereka secara emosional, hanya mengandalkan intuisi amatiran saya bahkan.

Beberapa saat kemudian, band ini menggelar beberapa tour promo di berbagai kota dengan dana hasil patungan internal mereka sendiri. Finding Moon Tour ataupun Riuh Berderau adalah langkah nyata dari sebuah organisasi yang tertata, hal yang sangat bisa untuk dijadikan lebih dari sekedar sebuah pembelajaran.

Saya mendapati kenyataan bahwa sebuah era yang baik akan segera terukir. Band ini, suka atau tidak telah melakukan banyak hal yang memang seharusnya dilakukan oleh banyak band lainnya. Sebuah perjalanan musical harus dilakukan bukan hanya untuk merambah rekan baru, tetapi lebih dari itu bahwa corat coret karir dari sebuah band harus dimulai dari mereka sendiri. Fans yang membeli ticket pertunjukan, atau beberapa rekan yang kemudian tergerak membeli rilisan fisik mereka saya pikir hanya bonus tambahan dari pergerakan itu.

Seorang Juang Manyala, kemudian berada dimana mana. Ia dengan manisnya merambah banyak hal. Saya tidak tau persis sejak kapan ia mulai menggarap scoring atau sejak kapan ia mengorganisasi sebuah pertunjukan kecil bernama Bunyi-Bunyi Perhalaman, yang saya ingat bahwa hal-hal tersebut kemudian terjadi, kemudian dibicarakan, dicermati, dikritisi dan saya member tepuk tangan kencang untuk itu.

FB_IMG_1487952940436

Semesta-Rupa Pesona, dan Kemudian Pintu Itu Mulai Ditutup

Suatu sore beberapa hari kemarin, saya mendapati kabar tentang bagaimana kurang lebih 10 tahun karir Melismatis akan segera memasuki babak akhir. Pernyataan bahwa band ini bubar sebelumnya saya pikir hanya sebuah isu atau paling tidak sebuah strategi biasa saja.

Seutas tali yang direntangkan mereka beberapa tahun silam akan segera diguntin putus. Saya menerima berita itu saat saya tidak punya perhatian besar untuk menyimaknya. Setau saya mereka bubar dan tak akan kembali entah untuk berapa lama, dan bisa jadi akan kembali lagi menyambung asa jika semesta menghendaki lain.

Dan ternyata benar. 5 Maret 2017 dipilih untuk mengakhiri perjalanan sebuah band nan atraktif ini. Sebuah rilisan double album berjuduk Semesta-Rupa Pesona adalah lembaran akhir dari semuanya.

Dalam hati kecil saya menyayangkan hal ini. Saya terlanjur berkoar koar bahwa kumpulan musisi ini bagus dan berprospek cerah. Bahwa belum tentu dalam 10 tahun lagi ada sesuatu (band) yang menyalak  keras seperti ini di Makassar.

Saya akui, saya sedikit mengalami patah hati, sebuah kondisi yang emoh saya akui sejak lama. Saya kadung menyukai komposisi yang mereka tawarkan.

Sebelum mulai menuliskan celoteh saya ini sebenarnya saya sudah bersepakat dengan pikiran saya untuk mengakhiri keabu-abuan ini seraya menunggu waktu yang tepat untuk menuliskan celoteh saya kembali bahwa satu suku kata dalam teks kembali diimbuhi lebih dari satu nada.

Dan Semesta-Rupa Pesona saya yakini kemudian adalah sebuah lembaran baru yang baru saja dimulai kembali, oleh banyak rekan yang meyakini music adalah bahasa paling menyejukkan bagi kita semua.

iko

Siasat Partikelir, Kolektif 13 Kota, Bergerak Bersama, Rapatkan Barisan!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *