Jangan Melulu Tentang Panggung

Belasan tahun mencoba menginisiasi panggung, merancang konsep, turut urun menggelar show musik live dan sejenisnya ternyata dalam beberapa sisi tak menemui hakikat sebenarnya, mengapa?

Makassar terlalu terbiasa dengan panggungan off air yang tercatat menyematkan banyak apresiasi bagi beberapa pihak saja, apapun bentuknya, Makassar terlalu terbiasa dengan lahirnya band-band yang merajai panggung dan lomba. Makassar terbiasa dengan ‘pengistilahan’ ‘festival’ yang makin kesini makin kabur arti sebenarnya.

Tugas saya dan kita adalah memberi pengertian bagaimana jaringan dan perkawanan itu bekerja, bukan malah memberikan panggung.

Beberapa tahun kebelakang, ketika nilai independensi masih setengah hati dijalankan dan rendah kreasi dalam penyajian, ketika itu pula, arti ‘indie’ melekat hebat terhadap beberapa unit yang masih juga percaya bahwa kehidupan berkelompok seni musik dengan rancangan apa adanya akan selamat mengarungi ketatnya persaingan, pun saat label-label yang berkategori ‘diimpikan’ makin tak jelas pula akan mengarah kemana. Padahal itu kurang baik, itu kurang sehat dan kurang mendidik. Itu salah? tergantung kacamata penilainya.

Tugas saya dan kita adalah tidak membiarkan kata itu, indie itu, membuat beberapa pihak malas dan tertidur ditempat karena yakin bahwa indie adalah penyelamat skena, penyelamat karya, padahal yang independen adalah gerakannya, bukan bandnya, bukan lagunya.

Beberapa bulan terakhir, makin banyak yang sadar bahwa nasib pemuda pemudi pecinta dan pengusung karya seni berbentuk aransemen dan lirik adalah jika karya mereka diperdengarkan, diperkenalkan, dipublikasikan dan dipersentasikan kepada orang-orang yang juga peduli bahwa yang independen itu adalah gerakannya, bukan musiknya, bukan bandnya.

Tugas saya dan kita adalah makin getol menjelaskan bahwa festival itu adalah puncak perayaan akan keberagaman dan bukan sekedar hura hura he he akan sesuatu. Festival itu adalah bertemunya beberapa dan banyak raga-raga yang percaya bahwa dengan pertemuan dan perbincangan, apapun yang dipersentasikan, akan menemui jalannya, akan memenuhi takdirnya.

Bahwa penyesalan itu selalu datang belakangan, hal itu juga tak sepatutnya dibenarkan, karena penyesalan bukan titik berleha leha menyadari kekeliruan. Penyesalan bisa berarti ditariknya kembali sebuah garis lurus dimana setelah itu kesempatan-kesempatan yang datang bukan lagi melulu tentang berbagai genre, independen dan festival musik, melainkan tindakan dan ajakan untuk terus sadar dan waspada bahwa masa depan skena musik dimanapun berada bergantung kepada siapa yang ada dan berjibaku didalamnya, menjadikan lingkungan dan udaranya bersih dari anggapan-anggapan miring dan kurang benar yang menyatakan bahwa kita seharusnya masih harus berjuang untuk mengetuk pintu sebuah label bernama besar untuk memasuki era keberuntungan sebagai musisi dan apa-apa yang berdiri disampingnya.

Saya dan kita, dulu, tak seharusnya hanya memberikan panggung tanpa ajakan untuk mengeliminasi anggapan-anggapan skeptis tentang bagaimana pergerakan yang benar itu berevolusi kedepan. Menyesal? tak harus begitu, karena sekali lagi yang independen bukan musiknya.

Bergerak bersama, bahu membahu, saling sikut dihilangkan, percaya kemampuan diri dan terpenting saling mengingatkan bahwa bukan melulu panggung yang harusnya dituju, karena panggung akan usai pada masanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *