Mengapa Event (Musik) Bisa Kolaps? pt1

Sungguh menggelitik saat siang tadi mendengar statemen orang saat ditanyakan bagaimana membuat event musik yang baik trus dijawab dengan ala kadarnya : yah, kita sebagai anak muda kan punya energi besar, dan kita bisa melakukan apa saja, kita punya alatnya, tinggal pasang, bayar dan jedaaar, …. kita senang-senang

Terngiang-ngiang percakapan itu hingga pagi buta ini, naluri kelancanganku mendidih hahahaha

Baiklah, saya yakin bahwa ilmu yang kita dapatkan dari pengalaman-pengalaman akan tidak bernilai jika tak dishare ke orang banyak. Nah ini pengalaman saya dikit, apalagi ilmunya. Ilmu bikin event apalagi, muasiiih banyak yang lebih hebat hehehe 

Tapi tak apalah, Bismillah, semoga yang sedikit ini, di otak saya, menjadi jauh lebih banyak nilainya di pikiran banyak orang, yuk kita kemoooon

1.Event atau gigs atau gelaran atau acara atau apapun namanya itu bukan masalah sekarang kamu punya energinya, punya sarana dan prasarananya, bukan itu. Karena kamu punya jiwanya. Mengapa demikian? 

Nah kadang kita tidak menyadari bahwa apa-apa yang telah kita lewati menjadi pengaya entitas kita. Pengalaman itu tak ada takarannya. Ia bertambah dan menjadi padat karena kita melakukannya dengan segenap jiwa kita ada disana. Bukan karena kamu mampu membayarnya, tapi sekali lagi karena kamu mampu melakukannya dengan jiwamu ada disana.

Anti teori dengan beberapa hal yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, saya melihat dan menyimak banyak gigs (musik atau yang menjual konten musik sebagai yang utama) digarap ‘seadanya’ dalam arti tak dipersiapkan dengan jiwa tapi karena ada gengsi disana, adu keren karena sejarah yang dibuat-buat, biar nanti, tahun depan, tahun nanti, ada yang bercerita seberapa kerennya kamu saat itu, ya saat itu, hanya saat itu juga!

Pentas-pentas digagas, digelar tanpa ada hitungan nilai-nilai didalamnya, selama itu akan menjadi hal terkeren menurutmu, kamu akan berdarah-darah disana. Apa sebenarnya yang kamu nantikan? Sekedar tepuk tangan dan pengakuan? Kategori gaul menjadi sandaranmu? Tidak kau catat berapa banyak energi dan keringatmu bertebaran bebas disana demi memenuhi ekseptasi keren dan jumawa yang juga hanya dari kacamatamu. Itu dia, sekedar melepaskan dan memperlihatkan hegemoni sebagai angkatan terkeren sekolahmu atau karena sekolahmu atau gengmu lebih besar dan jauh lebih bercahaya dibanding yang lain, mufakat yang terjadi tidak menyertakan ‘jiwa’mu disana, apa-apa yang engkau helat hanya akan sekedar bernilai ‘keren’ dan ‘mahal’ saja

2.Nilai yang kamu gelontorkan tak sebanding dengan pengorbananmu

Saat semua memasuki tahap penting, angka-angka yang digelontorkan akan menggerogoti kesenanganmu. 

Banyak event musik yang gagal juga karena tak ada perhitungan yang manusiawi di dalamnya. Ingat, tak ada gelaran yang tak mengharapkan timbal balik, meskipun itu menurut sponsormu (mungkin) hanya sekedar menghabiskan anggaran.

Coba pikirkan, dengan estimasi penonton yang hadir dikarenakan nilai jual event yang ‘tinggi’ dan ada beberapa pihak atau perorangan yang nempel didalam konsep besarmu, apakah layak warna dan brand itu disana? Apakah masih layak pihak yang sekedar menjajakan kemanpuan tanpa pengalaman menggerogoti rencana anggaranmu? Jangan! Kamu adalah pemilik sah dari konten, konsep dan nilai-nilai ekonomi yang muncul dari gerakanmu.

Pendeknya, singkirkan benalu, meski dia adalah saudaramu, jangan ia mengidap habis energimu. Pilah pilih siapa saja yang berhak memasang brandingan, bukan karena kapital besar, tapi seberapa penting dan masuknya ia dengan konsep. Sudah tak jaman lagi warna warni umbul umbul yang ‘ah, ga papa biar rame’ karena itu ada hitungannya, belum lagi masalah estetika yang kerap dilanggar

3.Eh ini harusnya point 1, persepsi kalian tidak sama

Nah biasanya, apalagi untuk seumuran anak sekolah (SMP atau SMU) yang melihat event musik itu sebagai langkah awal untuk memulai petualangan ‘gaya dan gaul’ tingkat menengah keatas, kesamaan persepsi awal atau visi tidak lah sama. Kadang yang pertama diadikan dasar adalah ‘persaingan’ dan ‘gengsi’ maka dapat ditebak kemana arah ‘organisasi’ labil tersebut. Terseok-seok, meminta bantuan orang tua atau siapapun juga yang tdk ada hubungannya dengan acara, sampai memilah-milah vendor yang sekedar tahu, yang bahayanya, makelar bergentayangan disekitar mereka hehehe

Tapi untuk level pendidikan lebih tinggi, kadang hal ini juga disepelekan. Biasanya, untuk level usia yang lebih diatas, keuntungan materi menjadi hal utama yang dituju. Bagus kah? ya dan tidak. Masalahnya kan sama dan simple, dalam sebuah organisasi bentukan untuk event yang biasanya situasional, hal-hal menyenangkan akan muncul saat pembicaraan awal, tahap pembuatan konsep dan menuju ke pembentukan team kerja. Setelah itu biasanya kapal akan mulai oleng kanan kiri.

Penyebab utamanya adalah visi yang tidak sama? ya jelas. Visi berbisnis didasari atas kemampuan mempergunakan keunggulan untuk melakukan tindakan yang menghasilkan materi dan pujian, kadang dengan cara apapun, namun hal ini salah diterapkan dalam managemen bentukan untuk sebuah event musik….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *